
Buku ini menelusuri luka-luka yang lahir dari sengketa, jejak-jejak ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi, doa-doa yang tersembunyi di balik penderitaan, serta suara-suara yang masih menunggu untuk didengar. Ketegangan antara legalitas adat dan hukum formal menjadi salah satu benang merah yang diolah secara metaforis tanpa menunjuk tempat maupun pihak tertentu.
Karena itu, puisi-puisi ini tidak hadir sebagai dakwaan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan realitas yang dapat ditemukan di banyak ruang kehidupan. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa persoalan tanah tidak selalu selesai melalui kemenangan salah satu pihak.
Kiranya kumpulan puisi ini menjadi ruang permenungan bersama bahwa tanah adalah anugerah yang dipercayakan kepada manusia untuk dijaga, dirawat, dan dipertanggungjawabkan. Sebab ketika tanah terluka, manusia turut terluka. Dan ketika manusia menemukan jalan untuk berdamai, tanah pun kembali menjadi tempat tumbuhnya kehidupan, doa, dan harapan.
Buku Baru
Tanah Itu Nyawa
Gerits Gemi Max Kelmaskossu
13×19 cm
2026
