Penakluk Ujung Dunia

Penakluk Ujung Dunia merupakan adikarya Bokor Hutasuhut dibandingkan karya-karya lainnya. Dia telah menulis dua novel lain, Tanah Kesayangan (1965) dan Pantai Barat (1988) serta cerita pendek yang terkumpul dalam buku Datang Malam (1963) dan ratusan cerita pendek lainnya yang berserakan di sejumlah majalah sejak dekade 1950-an. Setiap novel Bokor menegaskan, selain pentingnya tanah bagi bangso Batak, yang sangat penting mengubah pola pikir agar tidak menderita (karena beban tradisi menjadi jappurut dalam Penakluk Ujung Dunia, atau dijajah Belanda dan Jepang dalam Tanah Kesayangan dan Pantai Barat) atau hidup miskin dan terbelakang dalam sejumlah cerpennya. Novel ini mengangkat persoalan yang sering dihadapi masyarakat primitif di belahan bumi mana pun, yaitu meningkatnya jumlah populasi penduduk sementara luas wilayah tetap.  Bokor  punya solusi dengan cara mencari wilayah baru atau tano habungkasan  yang bisa menjadi tempat tinggal tanpa harus memerangi masyarakat lainnya. Cara ini ia perjuangkan dengan menciptakan tokoh Ronggur, seorang anak muda, yang memilih mencari lahan baru meskipun harus menentang larangan-larangan dalam adat. -Budi P Hutasuhut, penulis puisi dan prosa, peneliti kebudayaan Angkola.